ad1
Cerita Sex Penyesalan Karna Tidak di Anal
Iklans.com - Teng.. teeng.. teng.. begitulah bel sekolahku berbunyi yang menandakan seluruh pelajaran di sekolah telah usai dan siswa-siswi SMP tempatku menuntut ilmu sudah boleh pulang. Segera aku membereskan seluruh buku yang ada di mejaku dan bergegas menuju lapangan sekolah untuk bermain sambil menunggu dijemput. Biasanya memang aku pulang sendiri karena sebenarnya jarak dari rumah ke sekolahku memang tidak begitu jauh, hanya saja kali ini di rumahku sedang kosong jadi aku menunggu dijemput oleh Mbak Wi karena hanya dia yang memegang kunci rumah.
Di lapangan sekolah kulihat banyak teman-temanku yang sedang bermain bola dari plastik dan mereka sama juga sepertiku menunggu jemputan dari orang tua mereka, daripada diam menunggu aku pun bergabung untuk bermain dengan mereka. Cukup lama juga aku bermain karena teman-teman yang bermain bersamaku semakin berkurang seiring dengan datangnya para penjemput mereka. Aku melayangkan pandanganku ke pinggir lapangan dan ke gerbang sekolah untuk melihat apakah Mbak Wi sudah ada di sana atau belum dan ternyata belum,
“Aduh ke mana dulu sih Mbak Wi ini?” pikirku.
Aku segera menuju pinggir lapangan untuk mengambil minum dalam tasku dan ketika itulah kudengar sayup-sayup suara orang memanggil namaku dan ternyata itu Mbak Wi dan dia bersama seorang anak perempuan yang juga memakai seragam SMP sepertiku.
Aku berlari menuju Mbak Wi dan ternyata anak perempuan itu adalah Nia, anak kelas 1 SMP hanya beda sekolah denganku. Orang tuaku kenal sama Nia karena memang Nia sering diajak oleh Mbak Wi jalan-jalan, main ke rumah dan orang tua Nia pun sudah mengenal dekat Mbak Wi.
“Jon, sekarang kita kedatangan tamu nih,” kata Mbak Wi.
“Oh, Nia juga mau ke rumah kita sekarang ya mbak?” tanyaku.
“Iya soalnya kemarin ibunya Nia minta tolong jagain Nia sama Mbak Wi karena ortu Nia dua-duanya mau ke luar kota dan baru malam ini pulangnya.” Jawab Mbak Wi.
“Asyiik jadi aku ada temen main doong ” ajakku pada Nia.
Nia adalah seorang gadis yang cantik, kulitnya putih bersih, imut disertai dengan sikapnya yang manja yang selalu memeluk tangan Mbak Wi sepanjang perjalanan pulang. Nia memang benar-benar dekat dan percaya kepada Mbak Wi dan aku pun merasa kalau Mbak Wi menyayangi Nia.
Sesampainya di rumah aku segera mengajak Nia mengambil mobil-mobilan yang ada di kamarku kemudian mengajaknya bermain di ruang tengah sementara Mbak Wi berganti baju dan setelah itu pergi ke luar sebentar untuk membeli makan siang untuk kami semua. Hari itu memang menyenangkan, kami makan siang sambil bersenda gurau pokoknya benar-benar menyenangkan. Selepas makan siang Mbak Wi mengajak kami berdua ke kamarnya dan ia berkata padaku,
“Jon, kemarin Mbak Wi sudah menjanjikan hadiah padamu nah sekaranglah hadiahnya akan Mbak berikan, kamu harus bisa membahagiakan Nia seperti di film yang kamu tonton kemarin, kamu mengerti Jon?” Mbak Nia berkata padaku.
“Iya Mbak Wi,” jawabku ragu-ragu.
“Nia, ayo sini sayang naik tempat tidur bersama mbakWi.”
Kulihat Nia patuh sekali pada Mbak Wi dan kudengar Nia bertanya pada Mbak Wi,
“Kita mau main sayang-sayangan ya mbak?”
“Iya Nia cantik, seperti biasa.” Mbak Wi menjawab.
“Eh Kak Jon diajak juga ya mbak?” Nia bertanya lagi.
“Iya Nia sayang, Kak Jon juga diajak karena Mbak Wi mau mengajarkan kepada Kak Jon tentang tubuh seorang gadis dan Nia sebagai contohnya, nggak apa-apa khan Nia manis?” Tanya Mbak Wi dengan lembut.
“Tapi nanti enak khan seperti yang waktu Mbak Wi sama Nia aja?”
“Ooh tentu dong Nia sayang, Mbak Wi tidak akan pernah membiarkan orang lain menyakitimu, Mbak Wi khan sayang sama Nia, sayaang sekali.”
Post Terkait
Kudengar Mbak Wi membujuk Nia dengan lembut.
“Iya Nia juga sayang sama Mbak Wi.” Nia menjawab.
“Nah, Nia ayo sekarang buka pakaiannya ya cantik.” Kata Mbak Wi.
Kulihat Nia menuruti kata-kata Mbak Wi dan sekarang Mbak Wi mulai membuka rok dan celana dalam putih Nia sehingga terlihat seluruh tubuh yang indah, dengan payudara yang baru tumbuh dan kemaluan gundulnya yang belum ditumbuhi sehelai rambut pun, kulit putih bersih tanpa cela itu terlihat jelas dihadapanku. Melihat hal itu aku sebagai lelaki normal tentu saja menjadi bernafsu hal itu juga diperkuat dengan ingatanku akan film indah yang kutonton bersama Mbak Wi kemarin.
“Jon!!” tiba-tiba suara Mbak Wi membuyarkan lamunan nafsuku.
“Eeh, iya Mbak Wi.”
” Ayo kamu juga buka baju dan celanamu, masak cuman Nia aja yang telanjang, nggak adil doong?” Mbak Wi menghardikku.
“Iya nich ayo doong Kak Jon!” tiba-tiba Nia juga ikut menyahut dan hal itu benar-benar membuatku terkejut. Lanjut baca!

No comments :
Post a Comment
Leave A Comment...