ad1

Viral Pasrah Anus Ku di Tusuk Bos dan Senior ku 2

 Tradingan.com - Aku dengar suara percikan sower dari dalam kamar mandi, dan aku menoleh.. oh ternyata Pak Hans lupa menutup pintu kamar mandinya pikirku. Kupandangi lekuk-lekuk tubuh Pak Hans yang mengkilap karena basah. Betapa gagahnya orang tua ini, sanjungku dalam hati. Kulihat pantatnya yang putih bersih dan sintal tidak seperti pantatku yang sedikit coklat, maklumlah orang desa! Dadanya yang bidang penuh ditumbuhi bulu-bulu kejantanan. Pistolnya yang masih terkulai lemas dirimbuni rambut-rambut hitam yang lebat mungkin tidak pernah dicukur, ah.., betapa indahnya pentolan ujung pistolnya yang berukuran XL, kubayangkan kemaluan Pak Hans mirip pemukul gong.


“Dik Bram juga mau mandi..?” tanpa kusadari ternyata Pak Hans tahu kalau aku sedang mengamati tubuhnya yang lagi bugil.
“Nggak ah, nanti saja Pak Hans! Males, hawanya dingin.” jawabku.
“Lho, ini airnya hangat lho Dik, saya pake pemanas air kok.”
Aku baru tahu kalau Pak Hans memakai pemanas air.
“Dasar orang udik..!” pikirku memaki diriku sendiri.
“Ayo Dik Bram, segerr lho kalo badan udah mandi..” ajak Pak Hans lagi.
Aku diam saja.
“Wah.., Dik Bram malu ya mandi bareng Bapak. Masa sama cowoknya kok malu sih, lagian punya kita khan sama he.. he..” Pak Hans mecoba menggodaku.
Dan aku pun tidak dapat menolak ajakan Pak Hans, benar juga pikirku, ngapain harus malu. Kami kan sama cowoknya, dasar ‘wong ndeso’..!
Kulepas baju dan celanaku. Tinggal celana dalamku saja yang kupakai, lalu aku memasuki kamar mandi yang begitu luas buat ukuranku. Pak Hans memberikan gagang sower kepadaku, dan aku mulai mengguyur wajahku sampai seluruh permukaan tubuhku. Seger juga rasanya, baru kali ini aku merasakan nikmatnya mandi dengan air hangat. Sesekali kulirik tubuh Pak Hans, kulihat pula batang kemaluannya yang begitu besar bila dibanding dengan punyaku. Tanpa kusadari, tiba-tiba aku mulai terangsang melihat pemandangan itu. Aku juga heran kenapa aku tertarik kepada Pak Hans. Dan kurasakan senjataku mulai mengeras dan tegak hingga pentolan pistolku mulai menjulang dan berontak ingin keluar dari CD-ku yang berwarna putih.
“Wah.., gawat nich..!” pikirku seketika itu.
Kubalikkan badanku agar Pak Hans tidak mengetahui kalau pistolku membengkak tanda mulai bereaksi.
“Mandi kok celana dalamnya nggak dilepas sich Dik Bram, apa bisa bersih..?” tiba-tiba tangan Pak Hans menurunkan CD-ku yang berwarna putih.
Aku terkejut mendapat perlakuan Pak Hans. Dan dengan gerakan reflek aku menutupi batang kemaluanku dengan kedua tanganku, ternyata kedua tanganku tidak mampu menutupi seluruh permukaan pistolku yang dikarenakan besarnya ukuran pistolku saat berdiri tegak.
Pak Hans malah tersenyum melihat tingkah lakuku, sesekali matanya yang teduh dan nakal menelusuri seluruh lekuk tubuhku. Kulihat dia malah senyum-senyum. Aku tambah semakin gerogi mendapat perlakuan seperti ini.
“Kenapa Dik Bram, malu sama Bapak ya..?” tanya Pak Hans sambil mengulurkan tangannya mencoba menyentuh pistolku yang semakin keras dan tegak.





“Punya kamu ternyata gede juga ya..?” goda Pak Hans sambil mengelus pistolku.
“Jangan ah, Pak Hans..” ucapku karena malu, sambil mencoba melepaskan tangan Pak Hans yang sudah memegang kuat batang pistolku.
“Lho.., tadi pagi kan Dik Bram sudah pegang punya Bapak, lha sekarang supaya adil gantian Bapak yang pegang punya Dik Bram dong..!” kata Pak Hans sambil sesekali mengocok batang pistolku.
Aku tidak dapat menolak perlakuan dari Pak Hans, dan akhirnya kupasrahkan saja apa yang dia kehendaki. Tangan kiri Pak Hans terus mengocok batang pistolku dengan lembutnya, sesekali mengelus dan meremas buah zakarku yang masih menggantung. Ahh.. betapa nikmatnya, dan aku pun mulai menikmatinya. Lanjut baca!

No comments :

Post a Comment

Leave A Comment...

ad2