ad1
Viral Pasrah Anus Ku di Tusuk Bos dan Senior ku 3
Siskaee
2:26 PM
Iklans.com - Kemudian aku mengambil posisi berjongkok di atas tubuh Pak Hans yang telentang. Kupegang panggkal pistolnya, kuusap-usapkan pentolan pistolnya ke lubang anusku. Sedikit demi sedikit akhirnya pentolannya berhasil memasuki lubang pantatku. Aku pun meringis menahan rasa sakit. Kutekan pantatku hingga ke pangkal pistolnya. Kuraba ternyata batang pistolnya sudah hilang tertelan anusku. Pak Hans mulai menggoyangkan pantatnya naik turun. Ahh.., kurasakan nikmat yang luar biasa dari dalam anusku, hangat terkena gesekan batang pistol Pak Hans.
“Ohh.. sekarang enak.. Pak Hans.. terus.. tusukk.. ahh..” dan aku pun mulai menikmati tusukannya.
“Ahh.. nikmatt.. kamu masih perawan Dik. Ohh..!” Pak Hans mulai mengerang menikmati sedotan anusku.
“Aakhh.. aku mau keluar Dik Bram. Ohh..!”
Tiba-tiba Pak Hans bangun dari posisinya dengan batang pistolnya yang masih menancap di lubang anusku. Direbahkannya tubuhku di atas spring bed. Diangkatnya kedua kakiku dan ditaruhnya di atas pundaknya. Pak Hans mulai menggenjot anusku.
“Ohh.. terus genjot.. Pak Hans..!” dan aku pun semakin menikmati tusukan pistolnya.
“Ahh.. aku mau keluar. Ohh.. my god.. crott.. crott..!” kurasakan semburan hangat spermanya memasuki lorong anusku.
Baru kali ini aku menikmati semburan sperma yang luar biasa. Kami pun terkulai lemas, aku rebah dalam pelukan Pak Hans.
“Dik Bram, mendingan kost di tempat Bapak saja, nggak usah bayar, yang penting kita bisa melakukan ini setiap saat.” bisik lembut Pak Hans menawarkan jasanya.
Aku pun cuma mengangguk karena kecapaian. Dan akhirnya kami tertidur pulas dan tidak jadi menonton bola.
Paginya kami bangun, mandi, sarapan bersama, kemudian berangkat ke kantor untuk menyelesaikan laporanku yang belum selesai. Diantarnya aku sampai di ujung jalan oleh Pak Hans. Kulihat mobil BMW biru sudah di pinggir jalan. Rupanya Pak Baskoro si Boss-ku sudah lama menungguku. Aku turun dari mobil Pak Hans dan pindah masuk ke mobil Pak Baskoro.
Jam di dinding kantor sudah menunjukkan angka 10.00 WIB, tetapi kerjaanku belum selesai juga.
“Kriinngg..!” kudengar teleponku berbunyi.
Kuangkat gagang telepon, kudengar suara dari balik gagang telepon.
“Bram, coba kamu kesini sebentar..!” ternyata suara Pak Baskoro.
Aku semakin panik, karena pekerjaanku belum selesai.
“Mungkin Pak Baskoro memanggilku untuk meminta laporanku.” pikirku dalam hati.
“Baik, Pak..” jawabku lewat telepon.
Aku mengetuk pintu ruang kerjanya, “Masuk saja Bram..!” terdengar sahutan dari dalam.
“Maaf, Pak. Laporannya belum selesai, mungkin nanti dua jam lagi sudah saya selesaikan.” ucapku sedikit ketakutan.
Kupandang wajah Pak Baskoro, rupanya dia malah tertawa.
“Udah, nggak pa-pa. Lain waktu aja kamu selesaikan, soalnya aku nggak jadi bertanding sama Bapak Manajer. Habis, kemarin waktu latihan golf, pinggangku rasanya sakit. Mungkin uratku ada yang melintir.”
Aku tesenyum lega mendengar jawaban Pak Baskoro.
“Bram, denger-denger katanya kamu mahir dalam mengurut ya?” tanya Pak Baskoro lagi.
“Ah itu dulu Pak, waktu di desa. Saya hanya sedikit bisa, bukan mahir.” jawabku sedikit merendah, walau sebenarnya memang aku sudah mahir dalam urusan urut-mengurut.
“Tolongin saya dong Bram, pinggangku rasanya nggak bisa buat bergerak.” pinta Pak Baskoro. Lanjut baca!

No comments :
Post a Comment
Leave A Comment...